Sabtu, 20 Agustus 2016

Kembali ke sana


Sudah lama,
Ya sudah lama

Hari berganti hari
Masa berganti masa
Ada yang datang, ada yang menjauh
Tak ada yang tahu siapa
Tak ada yang tahu mengapa

Sudah lama aku menghilang dari sini
Sudut ruang hati yang tenang
Hanya secercah cahaya menembus masuk

Kursi rendah menungguku di sana
Berdebu dan usang
Siapa yang ingin kembali ke sana?

Ruang hati ini sudah ramai
Arena pikiran riuh rendah
Logika bermain dalam akal
Semua beradu, membuka suara
Membuat gelanggang kehidupan makin gemuruh
Masihkah kuperlu sudut hati yang sepi itu?

Dan kulihat sekelebat bayang
Terduduk terdiam di sana
Di sudut ruang hati yang teduh
Jiwaku
Di sana
Dengan segala lelahku
Bebanku
Penatku
Rencana masa depan
Memori masa lalu
Desakan hati yang mengguncang raga
Dan jeritan yang sudah tidak lagi terdengar!

Tanpa kata
Tanpa makna
Hanya mencari ruang
Tanpa tanya
Hanya menjumpai sunyi
Memeluk senyap...


Dan Dia juga di sana
Menantiku
Dengan tangan yang terbuka
Mata Air yang meluap-luap
Mengalirkan kelegaan

...

Kembali ke sana,

Sudah lama,
Ya, sudah lama.


====================================================
Christnadi, 20 Agustus 2016

Mengintip kembali blog ini yang terhenti terisi di tahun 2015, mengisi lagi sambil mengingat setiap orang yang terbelit kesibukan, sehingga tidak memiliki waktu untuk kembali ke sana ... ke sudut hati yang teduh, untuk meletakkan setiap beban kehidupan. Karena Dia, Sang Mata Air Kehidupan, menjanjikan kelegaan :) *tetap semangat kawan!

Senin, 19 Oktober 2015

Terang untuk mata?


Aku bernaung dalam gelap
Mencoba bernafas
Berpikir
Bergerak
Mengembara di dalamnya

Kegelapan menelanku hidup-hidup
Kepalaku seperti tertusuk panah racun
Yang dilepaskan entah dari mana
Entahkah dari utara
Mungkin dari selatan
Melesat dari timur
Untuk mengarah ke barat?

Masihkah terlihat secercah cahaya itu?
Yang terangnya tidak menyilaukan
Dan memberi harapan
Untuk dapat bernafas
Berpikir
Bergerak
Berlari
Membuat loncatan hidup
Dalam semesta yang tak berujung ini

Berikan aku cahaya
Dan biarkan mataku melihat sinarnya
Akankah kunikmati itu,
jika mentari telah turun dan menghilang?

Dan cahaya-cahaya palsu itu nampak
Gemerlapnya mempesona
Seakan membuka jalan ke Firdaus
Entahlah,
Aku tak bisa melihat jelas

Konstelasi menyusun dirinya
Bintang-bintang berusaha menghiburku
Tetapi mereka tidak dapat
Tidak ada yang dapat menggantikan surya pagi!
Yang terus naik dan berkuasa atas bumi
Hingga tenggelam di ufuk barat
Menyisakan semburat ungu tersipu

Hari yang gelap
Detik bertambah makin menggelap
Tubuh terkulai lemah berusaha merengkuh memori indah
Saat mentari masih berada di balik awan-awan putih menggumpal
Saat terang itu menelusup mengisi setiap ruang kosong
Saat cahaya itu berpendar hingga menyilaukan
Apa yang kulakukan?
Kesenangan demi kesenangan yang menguap ke udara bebas
Dan hujan menyapu bersih ketika malam datang

Malam ini gelap
Mata ini menerawang mencari cahaya di tepi batas
Hingga setitik terang kecil, hangat, meneduhkan
Muncul dari ruang hati terdalam
Berpendar indah nan mempesona
Menggugah harapan
Membakar semangat
Menimbulkan gerak kehidupan

Kegelapan itu sirna
Dan jalanku terbuka lapang
Di hadapanku

***


"Terang itu menyenangkan dan melihat matahari itu baik bagi mata; 
oleh sebab itu jikalau orang panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya, 
tetapi hendaklah ia ingat akan hari-hari yang gelap, karena banyak jumlahnya. 
Segala sesuatu yang datang adalah kesia-siaan." 
(Pengkhotbah 11:7-8)

=============================================
Christnadi, di suatu malam di bulan Oktober 2015. Tertidur sore hari karena kurang enak badan, terbangun dalam kamar yang gelap dan kepala yang sakit. Tiba-tiba teringat kata-kata "terang itu menyenangkan dan melihat matahari itu baik bagi mata" :)

Minggu, 11 Oktober 2015

Jaka dan Puan

JAKA:

Indah senyummu
Gelak tawamu yg merdu di telingaku
Anggun caramu mengibaskan rambut panjang itu:
yang penuh semerbak wewangian
Ceriamu yang menyapa tiap jiwa yang penat
Aku ingat, aku terkenang
Semuanya tercetak jelas di bongkahan hati

Aku menyesali kebodohanku setiap kali engkau singgah di pikiranku
Menyia-nyiakan kasih sayangmu yang tulus tak bercela
Mengira kalau kau akan selalu ada
Demi egoku, aku melewatkanmu
Engkau dan sekeping hatimu
Engkau yang begitu hidup

Sekarang kusadari, kepergianmu adalah kematianku
Kau telah menjadi bagian hidupku
Ketika kau pergi, kau membawa separuh jiwaku pula
Tanpa kau ajarkanku caranya bertahan tanpa semangat yang menular dari dalam sosokmu yang memesonaku

Akulah kesalahan terbesarmu
Engkaulah penyesalan terbesarku

***
PUAN:

Kakiku sudah melangkah dan tak akan kuhentikan
Kubiarkan diri ini berjalan menjauh darimu
Bukankah memang jalan kita tak sama?
Di satu titik kita bertemu,
Tetapi kau tidak acuh padaku
Aku hanya satu
Dari banyak perempuan di sekelilingmu

Senyummu manis,
Wajahmu tampan
Tegap gagah jalanmu mempesonaku
Kata-katamu selalu berhasil meneduhkanku
Aku ingat, aku terkenang
Semuanya tersimpan dalam peti ingatanku

Hingga pada suatu hari aku tercenung
Kesadaranku membangunkanku
Aku dipukulnya hingga mataku terbuka
"Lihat pangeranmu, dia bukan milikmu"
Dan benar,
Kau berada dalam jarak,
Bahkan kau lebih peduli pada yang lain
Jadi siapakah aku?

Tidak lebih dari pecundang,
Akulah itu
Tidak lebih dari pasukan yang kalah perang,
Ditumpas telak dalam serbuan maut,
Itulah aku

Selama ini aku dibuai oleh mimpi
Diangkat tinggi dalam harap
Hingga dihempaskan jatuh ke dasar bumi,
Oleh kenyataan
Kau bukan milikku

Dan sekarang kau terbungkus dalam sesal?
Tertelan oleh kebodohanmu sendiri?
Perlukah aku peduli?
Seperti kau yang melihatku dengan ujung matamu
Ketika aku tenggelam dalam air mata
Terhisap dalam lumpur kekecewaan

Aku pernah menginginimu,
Dulu, bukan hari ini
Pintu ini sudah tertutup
Dan kubiarkan ia terbuka untuk ksatria berkuda putih
Seorang yang lain
Bukan dirimu

***
JAKA:

Harusnya aku tak menyahut
Harusnya aku tak bergeming
Harusnya aku tak membiarkan benih cinta itu bersemi
Harusnya aku tak memupuknya, menyiramnya
Harusnya aku membiarkannya mati

Hatiku kian gersang
tak lagi dihujani kasih sayangmu
Namun langit-langitnya senantiasa dipenuhi awan mendung nan gelap
tiada lagi matahari yang mencerahkannya

Hatiku kian kerontang
haus akan air yang menyegarkan
yang kau bawa bersamamu ketika engkau memutuskan untuk pergi
Namun langit-langitnya tetap muram
menanti turunnya rintik-rintik air mata penyesalan

Hatiku dilanda kekeringan begitu hebat
Menanti embun-embun yang menyejukkan lara
menanti kematianku yang lelas

Harusnya kau masih di sisiku
Harusnya genggamanmu tak kuabaikan
Harusnya aku berlari mengejar langkahmu yang menjauh
Harusnya ada yang menjadi 'kita'

***
PUAN:

Langit tak pernah begitu gelap
hingga aku melangkah jauh darimu
Anak-anak berlari-lari kecil di sekitarku
Mereka yang biasa kau sapa saat melewati jalan ini

Betapa indah hari itu
Ketika hati ini masih untukmu
Sampai di suatu titik dalam rentang waktu
Aku melihat kekalahanku

Mengapa kau kini mencariku?
Kau sebut namaku lagi
Setelah lama namaku terganti olehnya

Memang indah hari itu
Ketika hati ini bersemi mendengar suaramu
Melihat gelak tawamu, menepuk bahu lebarmu
Dan.. bersandar di dadamu

Bodohkah aku kalau kuhentikan langkahku,
Dan berbalik mencari seberkas bayang wajahmu?
Jika aku menghampirimu lagi,
Akankah kau remukkan hati ini untuk kedua kali?

Lelakiku, jangan biarkan dirimu meluruh
Melebur dalam kesedihan yang sia-sia
Diri ini juga tidak mampu melangkah lebih jauh

Aku akan kembali padamu

==========================================
Puisi kolaborasi Christnadi P. Hendartha dengan Novrianna G. Carolina Hutagalung, 11 Oktober 2015. Mencoba membuat puisi kolaborasi berbalasan, laki-laki dan perempuan, tetapi penulisnya tukar gender, Christnadi menulis sebagai PUAN dan Novrianna menulis sebagai JAKA.

Sabtu, 10 Oktober 2015

pergilah


menghitung hari tanpa melangkah
terdiam dalam sebuah dimensi
mencoba berlayar tapi terdiam

angin menghempas daun berterbangan
menerima perginya hati menangis
sendiri menikmati dekapan kelabu

menatap jauh membayang dekat
mengapa diri merana pedih
melihat jejak langkah menjauh

ingin teriak memecah kesunyian
tapi mulut terkatup bergetar
air mata turun perlahan

tidak mungkin, tidak mungkin!
mimpi buruk bercampur realita
akankah ilusi ini berakhir?

dan aku menghitung mundur
empat, tiga, dua, satu
dan dia tak kembali

sudah cukup mata mencari
hati mengerang, bibir berbisik
telinga berharap mendengar suara

horizon sudah menelan bayangnya
seiring dengan masuknya mentari
dan gelap datang menemani

pada ujung batas harap
aku tersungkur dalam diam
berusaha menghapus sisa dirinya

selamat tinggal cahaya kemilau
sudah tiada percikan cintamu

biarkan aku hidup tanpamu

===========================================
Puisi kolaborasi Christnadi P. Hendartha dengan Fredely Louise C. Zebua, 10 Oktober 2015. Nemu temen baru yang hobi nulis puisi juga hehehe :) terus berpuisi Louise!

*pola puisi yang Louise pakai tipe 3 baris dan per baris berisi 4 kata, jadi kuteruskan seperti itu dalam puisi ini :)

Jumat, 09 Oktober 2015

Lemah


Lihat perempuan kecil yang duduk di taman
Ia terlihat sangat senang menatap bunga
Jika kamu ada di sana mungkin kamu dapat merasakannya juga
Indra perabanya menggapai bunga
Indra penglihatannya pun menatap kagum
Orang lain melihat aneh tingkahnya
Namun ia tidak malu dengan kekagumannya yang terpancar

Ia melihat orang di sekitarnya menatap dirinya aneh
Ia tidak mengerti akan sekelilingnya
Ia merasakan ada keanehan
Kesadarannya seperti jentikan jari yang keras
Ia baru sadar akan apa yang dilihat mata
Kakinya tidak mampu untuk menggapai semua bunga
Ia merasa lemah dan tidak berdaya

Ia tersadar oleh hal lain
Ada juga kelemahan yang ada pada mereka yang menatapnya
Kelemahan itu adalah ketidaksadaran
Ketidasadaran akan ciptaan Tuhan yang indah
Yang anak perempuan itu lihat banyak mata sibuk dengan gadgetnya
Itu yang menggambarkan bahwa dirinya tidak selemah mereka

Kapan terakhir mata mereka memandang ke langit?
Kapan terakhir mata mereka dipuaskan oleh bunga-bunga warna-warni?
Kapan terakhir mata mereka melihat kebaikan yang terpancar dari hati?
Sehingga perempuan kecil itu dipukul oleh salah satu dari mereka
Ketika ia berlari ke sana ke mari menyusuri taman

Lihat perempuan itu terduduk lemah
Dipukul oleh orang yang sebenarnya lebih lemah
Air matanya jatuh menetes menahan sakit
Ia tersadar oleh hal lain
Bahwa menjadi yang indah di tengah yang buruk juga ketidakindahan
Ia tidak boleh jadi bunga matahari di tengah ilalang
Dan ia menangis
Apakah dunia memang seperti itu

Anak perempuan itu memang kecil, lemah
Namun ia tidak pernah melepaskan bunga kecil yang ada dalam genggamannya
Entah kenapa dengan itu ia merasa kuat
Mungkin sebenarnya bukan dia yang menggenggam bunga
Tetapi Sang Khalik yang sedang menggenggam tangan kanannya

Anak itu kelak menjadi dewasa
Mungkin ia akan terus lemah
Tapi ia tidak rapuh
Bagai bambu ia menjadi lentur
Mungkin ia tidak bisa tetap tegak berdiri ketika diterpa angin
Tetapi ia tidak akan patah
Ia hanya melengkung sebentar dan ia kembali berdiri tegak!

==============================================
Puisi kolaborasi Christnadi P. Hendartha dengan Ria Carolina D. S. Tadu, 9 Oktober 2015
Dipersembahkan untuk siapapun yang merasa lemah, "dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." (Yes.30:15f)

Rabu, 30 September 2015

Murid


Teng teng teng!
Tiga kali lonceng sekolah itu berbunyi
Nama lonceng itu adalah "kebangkitan"
Mendengar itu insan-insan berkumpul
Mereka adalah para murid

Murid yang lugu
Terkadang lucu
Sesekali kuyu
Murid ini tidak datang karena mencari guru
Murid dengar panggilan itu
"Mari, ikutlah Aku"
Dan murid melaju
Meninggalkan masa lalu
Pada Sang Guru mata mereka tertuju

Kini, mereka tidak hanya tertegun, mereka harus beraksi
Meninggalkan bangku-bangku kelas dan pergi bersaksi

Dua belas murid melangkah,
Menelusur jalan-jalan dunia
Menggugah nalar-nalar yang sempit
Terjepit terhimpit
Kerakusan ketamakan keangkuhan
Keterjebakan dalam hikmat kosong

Oh murid yang sekarang!
Mengapa engkau diam?
Engkau membentengi diri dengan tembok yang kuat
Tetapi merubuhkan pilar-pilar penyangga bangunan
Di luar, tembokmu gagah berdiri
Di dalam, kotamu dilebur dalam api

Sang Guru tidak lagi kau ceritakan
Ajaran Guru tidak lagi kau sampaikan
Malah suara sumbang kau perdengarkan
Menggiring insan berjalan menuju palung kelam

Teng teng teng!
Pergilah!

========================================
Christnadi, sebuah refleksi dalam mata kuliah Misiologi, 29 September 2015

Sabtu, 19 September 2015

Hilang


Takut, lalu menghela napas
Takut, kemudian menghela napas
Tiada jeda di antara formula itu
Sama seperti kecemasan yang menguntitku
Tanpa jeda, tiada henti

Setiap kali aku memikirkan kita,
pikiranku selalu tersandung;
Apakah kita bahkan benar-benar ada?
Mataku kini tak lagi berdaya
memisahkan yang maya dari yang nyata

Tiada keberanian hinggap di hatiku
untuk mengakui bahwa rasa itu memang ada,
memang nyata

Pandanganku diselimuti kabut
kabut jarak dan waktu
Membuatmu semakin sulit terlihat
Ada seperti tidak ada
Jauh sekaligus dekat sekali

Langkahku terasa semakin berat,
semakin gontai
Kabut itu semakin memedihkan mataku
Sepertinya aku harus berhenti di sini
'tuk mencari sosokmu;
Di manakah engkau?

Perlahan aku menghentikan langkah
Jejakmu sudah lenyap
Bayang-bayangmu tak tersisa lagi
Tinggal aku tercekat dalam sunyi

Takut, lalu menarik napas
Takut, kemudian menarik napas
Jantung berdegup di antara keduanya
Tak ada lagi yang bisa kuhirup
Saat melihatmu menjadi ilusi dalam khayal

Mengapa aku tak bisa menggapaimu lagi?
Menemukanmu dalam rengkuhanku
Menjumpaimu di bawah langit temaram
Bersemu merah jingga
Dan awan berarak
Menudungi kita

Sepertinya aku terlalu bodoh
Membiarkan realitamu tergeser dari kehidupanku
Tanpa sedikitpun aku mencegahnya
Dan memastikan kau ada
Mengisi celah-celah jariku

Kutunggu kau di sini
Di ruang sejarah di ujung garis waktu
Duduklah bersamaku
Sebelum bayang gelap menghampiriku

==================================================
Puisi kolaborasi Christnadi P. Hendartha dengan Novrianna G. Carolina Hutagalung, 19 September 2015, seraya berdoa, semoga UKM tulis menulis di kampus kami dapat diadakan :)