Selasa, 05 Mei 2009

Ariel, The Holy Knight (Bagian 1)

"..."

"Akh...," ombak pantai membasahi wajahku. Aku terbangun dari tidurku. Sepertinya aku sudah lama terbaring tak sadarkan diri di hamparan pasir pantai ini sejak kapal tercintaku dihantam badai. Matahari terik menyinari tempat aneh ini. Yeah,mudah-mudahan inilah tempat yang kutuju, Pulau Firdaus.

Kubangunkan tubuhku perlahan, meski masih cukup letih tak bertenaga. Kulangkahkan kakiku mengikuti arah angin. "Akhirnya aku bisa keluar dari kota jahanam itu," pikirku dalam hati.

Perkenalkan, namaku Ariel. Ya, kota jahanam yang aku maksud tadi adalah kota asalku, Gomorah. Kota yang menawarkan aku dengan seribu satu kenikmatan dosa, namun semakin lama semakin menyeretku kepada kematian. Tampaknya, Penguasa Kegelapan telah berhasil merebut kotaku. Meski Istana dan Raja Maut telah dihancurkan, namun Penguasa Kegelapan masih berkeliaran berusaha mengancurkan kehidupan umat manusia di dunia.

Untung saja saat itu ada orang tak dikenal memberikanku peta menuju ke Pulau Firdaus. Aku diminta untuk meninggalkan kota Gomorah dan menuju ke Istana Firdaus. Mungkin aku bisa selamat di sana.

Sekarang, perasaan dalam hatiku benar-benar campur aduk. Gembira dan bersyukur karena aku masih hidup, sedih karena kapal tercintaku hancur, dan takut. Takut? Jelas, cobalah kalau kau ada di posisiku saat ini. Berjalan tertatih-tatih di dalam hutan lebat yang sama sekali tidak dapat ditembus oleh sinar mentari, tanpa mengetahui arah ke Istana Firdaus, dan dengan diiringi oleh berbagai suara aneh disekelilingku.

Akhirnya, setelah jauh berjalan, aku melihat sebuah rumah penduduk. Ada baiknya ku hampiri, mungkin ada yang tinggal di sana.
"Permisi..., ada orang di sini?" ujarku seraya mengetuk pintu. Nihil. Tidak ada yang menyahut.

"!!!"
Sungguh aku terkejut!
Sebilah pedang ditodongkan dari belakang.
"Siapa kau dan apa maumu?!"
"A.. Aku... Namaku Ariel, aku hanya ingin mencari jalan ke Istana Firdaus!" ujarku ketakutan.
"Buktikan kalau kau memang Pencari Jalan dan bukan pengikut Penguasa Kegelapan!!!" teriaknya seraya membalikkan tubuhku dan menodongkan pedangnya ke leherku. Ia berbadan sedikit lebih pendek dariku, namun pria dihadapanku ini memiliki tubuh yang kekar di balik jubah dan tudung kepalanya. Aku panik, sepertinya ia ingin membunuhku, aku berusaha mencari akal. Tiba-tiba peta Pulau Firdaus dari kantong bajuku jatuh.

Pria itu menoleh, melepaskan todongan pedangnya dari leherku, lalu mengambil peta itu. Ia terdiam sejenak, menutup peta itu dan mengembalikannya kepadaku.
"Selamat datang di Pulau Firdaus, pakailah segel ini di tanganmu dan jangan dilepas," katanya. "Istana Firdaus ada di Kota Eden, di bukit dibalik hutan ini, jadi ikutlah aku, cepat!"

Aku lalu berjalan mengikutinya. Huh, nyaris saja aku mati. Aku cukup kesal, setelah hampir membunuhku kini dia menjadi amat baik dan ramah kepadaku.
"Sepertinya, ini giliranku bertanya," aku memberanikan diri bertanya, "Siapa engkau?"
Dia hanya memberikan isyarat kepadaku, tanda kalau aku untuk sementara tidak boleh berbicara.
Sudahlah, yang penting aku bisa sampai di Istana Firdaus.

Tak berapa lama, kami sudah berjalan keluar dari hutan, menghadap kepada tembok benteng yang besar dan sangat tinggi.
"Maaf untuk ketidaksopananku tadi," ujarya sambil melepaskan jubah ungu gelapnya.
"Perkenalkan, aku Obaja, Holy Knight divisi hutan belantara barat. Sekali lagi maaf atas perlakuan yang tidak sopan tadi. Aku hanya menjalankan tugasku untuk siaga terhadap semua bentuk penyerangan pasukan pengikut Penguasa Gelap yang hendak menyerang pusat kota Eden," dia menjelaskan dengan ramah.

Dari perlengkapan yang dipakainya, aku yakin ia tidak bohong. Baju ksatria lengkap berwarna perak menyala meyakinkanku kalau ia benar-benar seorang ksatria, Holy Knight atau apalah namanya itu.

Sekarang kami sudah sampai di hadapan pintu gerbang besar. Obaja mengajakku berhenti jauh-jauh di depan pintu gerbang itu.
"Shaloooom...!" teriaknya jauh-jauh di depan pintu gerbang besar. Lalu terdengar suara menyahut dari pos penjaga di atasnya, "damai sejahtera besertamuuu...!"
"Dan besertamu juga!" Obaja membalas salam itu. Pintu kemudian dibuka. Lega akhirnya bisa sampai di pusat kota Firdaus. Dari celah pintu gerbang sudah terlihat penduduk pulau yang sedang bersukacita, mulut mereka penuh puji-pujian dan pengagungan kepada RAJAnya.

"Teeeeoooooooottt....," Tiba-tiba sangkakala ditiup panjang. Tadinya kupikir untuk menyambut kedatanganku, tapi ternyata tidak. Obaja sudah bersiap dengan pedang di tangannya lalu melindungi aku.
Aku melihat bala tentara berseragam merah gelap bertebaran di belakang kami, tampaknya mereka sudah mengikuti kami dari tadi. Tak lama, bala tentara Firdaus keluar dari persembunyiannya dan menghadang mereka.

"Itulah prajurit Pengikut Penguasa Kegelapan, Ariel," bisiknya, "Dan sepertinya mereka mengingini dirimu."
"Kenapa mereka mengingini aku?! Bukankah mereka biasanya hanya mengancurkan kota-kota?!"
"Ya, tapi mereka juga tidak ingin siapapun diselamatkan oleh YANG MULIA RAJA! Mereka ingin kau menyerahkan jiwamu kepada mereka!"
"Jadi, apa yang harus aku lakukan?!"
"Bersiaplah, dan saksikan pasukan bala tentara Firdaus akan memukul mundur mereka!!!"

Sepertinya perang akan dimulai, pasukan musuh tampak besar-besar dan menyeramkan, dan panglima Pasukan Kegelapan menunggangi kuda sambil mengucapkan kata-kata hujat. Bala tentara Firdaus sudah bersiaga, dengan mantap dan tegap mereka berdiri. Aku yang biasanya pemberani menjadi penakut. Lututku berantukkan tanda aku sedang gemetar hebat. Namun aneh, kulihat wajah Obaja tidak menunjukkan ketakutan sama sekali, wajahnya seperti bersinar!

"Bawa anak itu ke Istana Maut!!!" teriakan Panglima Perang Pengikut Penguasa Kegelapan membuat seluruh prajurit Kegelapan maju dan siap menyerang membabi buta. Aku semakin ketakutan, diriku seakan mau mati rasanya.

"Kalahkan Kuasa Gelaaaaap!!!" teriak Obaja. Tiba-tiba seluruh bala tentara Firdaus maju, sambil berkata-kata dalam bahasa yang tidak aku mengerti. Juga terlihat olehku sesosok makhluk seperti manusia, namun berwajah terang dan memiliki sayap, terbang mengikuti mereka.

"YANG MULIA RAJA telah memberi kemenangan bagi kitaaaa, kemuliaaan bagi RAJA!!!" teriak makhluk itu.

=====================================

bersambung ke Ariel, The Holy Knight bagian kedua...

Tidak ada komentar: