Rabu, 20 Mei 2009

Ariel, The Holy Knight (Bagian 2)

Cerita sebelumnya...
Ariel, seorang pemuda yang tersiksa di Kota Gomorah yang telah dikuasai oleh Penguasa Kegelapan, melarikan diri ke Istana Firdaus, di Pulau Firdaus, Kota Eden setelah memperoleh peta menuju ke sana.
Sesampainya di Pulau Firdaus, ia bertemu dengan Obaja, seorang Holy Knight, yang kemudian membawanya ke Kota Firdaus. Namun, belum sampai ke gerbang kota, mereka sudah dihadang oleh Prajurit Penguasa Kegelapan. Panglima Prajurit Penguasa Kegelapan hendak merebut Ariel dan menjadikannya Pengikut Penguasa Kegelapan. Maka terjadilah perang antara Bala Tentara Firdaus dan Prajurit Kegelapan...


---

"Bawa anak itu ke Istana Maut!!!" teriakan Panglima Perang Pengikut Penguasa Kegelapan membuat seluruh prajurit Kegelapan maju dan siap menyerang membabi buta. Aku semakin ketakutan, diriku seakan mau mati rasanya.

"Kalahkan Kuasa Gelaaaaap!!!" teriak Obaja. Tiba-tiba seluruh bala tentara Firdaus maju, sambil berkata-kata dalam bahasa yang tidak aku mengerti. Juga terlihat olehku sesosok makhluk seperti manusia, namun berwajah terang dan memiliki sayap, terbang mengikuti mereka.

"YANG MULIA RAJA telah memberi kemenangan bagi kitaaaa, kemuliaaan bagi RAJA!!!" teriak makhluk itu.

Teriakan itu menggelorakan semangat bagi Bala Tentara Firdaus. Terlihat olehku sepasukan Holy Knight menyerang maju, diikuti oleh makhluk bersayap tadi.

Tiba-tiba hal yang aneh terjadi. Para Prajurit Kegelapan yang merupakan makhluk-makhluk besar yang menyeramkan kemudian diam di tempat. Dari belakang, tampak segerombolan pasukan lain.
Ya, sepenglihatanku itu adalah pasukan manusia, mungkin mereka adalah Pengikut Penguasa Kegelapan. Mereka terlihat seperti penyihir-penyihir dan nabi-nabi palsu.

Aku kemudian menoleh ke Obaja. Dia tampak terkejut!

"Taktik yang licik! Mereka tahu bahwa peperangan kita tidak melawan darah dan daging! Kami tidak akan melawan manusia-manusia itu. Manusia-manusia Pengikut Penguasa Kegelapan bukanlah lawan kami! Mereka hanya sekelompok manusia yang tidak tahu apa yang mereka perbuat. Mereka termakan oleh tipu daya Penguasa Kegelapan," jelas Obaja.

Aku semakin ketakutan, perasaan dalam hatiku makin berkecamuk. Aku semakin meragukan kemenangan Bala Tentara Firdaus. Sepertinya diriku benar-benar akan ditawan oleh Penguasa Kegelapan.
Kembali aku melayangkan pandanganku ke Bala Tentara Firdaus. Mereka terlihat sedang berusaha sekuat tenaga menembus gerombolan manusia Pengikut Penguasa Kegelapan, dengan pedang yang masih tersarung di pinggang mereka. Beberapa sudah berhasil menembus gerembolan itu, tapi tidak sedikit pula yang berguguran, terhunus pedang dan sihir-sihir.

Makhluk bersayap yang terus berusaha menyerang dan melindungi Bala Tentara Firdaus, kini terlihat amat tak berdaya setelah dipanah berkali-kali dengan panah kegelapan.

"Arieeeel!!! Aku harus maju!" teriak Obaja, "Tetaplah disini dan berdoa!"

Berdoa?! Minta bantuan kepada YANG MULIA RAJA?! Di saat seperti ini?! Mana bisa?!!
Tapi makin lama aku makin melihat kekacauan, Bala Tentara Firdaus sudah tak berdaya menghadapi mereka, apalagi kini Prajurit Kegelapan juga ikut maju menyerang.

Aku semakin merapat ke tembok kota, aku ketakutan, terutama karena aku tidak dapat berbuat apa-apa. Andai saja aku diberi senjata, maka aku akan coba melawan mereka. Masakkan sekarang aku harus berdoa minta pertolongan?! Sudah lama aku tidak berdoa dan berserah. Selama ini aku yakin aku mampu dengan kekuatanku sendiri.

"TIDAAAAK!" teriakku, sebilah pedang nyaris merenggut nyawa Obaja. Untung dia cepat menyadarinya. Sekarang saatnya aku berdoa. Aku berlutut, melipat tanganku, dan memejamkan mataku. Sekuat tenaga aku memohon pertolongan kepada YANG MULIA RAJA.

"..."

Aku merasakan keheningan sejenak ketika aku berdoa. Tiba-tiba datang angin berhembus cukup keras melewati diriku. Aku lalu membuka mataku dan aku melihat, makhluk bersayap yang menolong kami kemudian bersinar terang, seperti memperoleh kekuatan baru. Ia dengan cepat lalu berputar ke sana kemari, memberi kekuatan kepada Holy Knight yang sudah tak berdaya, sambil dengan cepat menyerang Prajurit Kegelapan. YANG MULIA RAJA pasti telah mendengar permohonanku dan menyalurkan KuasaNya!

Tapi tidak lama kemudian aku melihat dari kejauhan, ada yang datang dengan kudanya yang semakin mendekat ke arahku. Tidak! Ternyata itu adalah Panglima Prajurit Kegelapan!
Panglima Prajurit Kegelapan lolos dari peperangan itu dan langsung mengarah kepadaku! Apa yang harus aku lakukan?!! Ia semakin lama semakin dekat denganku. Tombak Kegelapan sudah ditangannya dan siap ditancapkan ke tubuhku.

Sesuatu yang ajaib tiba-tiba terjadi. Aku merasakan seperti ada kilat yang menyambar diriku. Diriku tersengat listrik dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aneh, aku tidak mati! Malah aku merasakan ada kekuatan baru yang mengalir dalam diriku.

Panglima Prajurit Kegelapan sudah amat dekat denganku. Hatiku kemudian bergejolak, tanganku panas dan kakiku langsung melompat ke arah Panglima Prajurit Kegelapan itu. Tanpa aku sadari, sebilah pedang terang, tepat seperti yang digunakan oleh para Holy Knight, tiba-tiba muncul di tanganku!

Aku menghunuskan pedang itu ke tubuhnya. Sinar terang kemudian terpancar dari pedangku, membuat aku terhempas ke tembok kota. Panglima Prajurit Kegelapan itu lalu berteriak kesakitan. Aku lemas tak berdaya. Aku hanya mendengar suara sorak-sorai sukacita dari arah Bala Tentara Firdaus. Tidak lama kemudian aku tidak sadarkan diri...

---

Ketika aku tersadar, aku sudah terbaring di ranjang empuk di dalam sebuah ruangan. Sepertinya aku sudah berada di dalam kota Eden. Seorang laki-laki tua dengan jubah panjang masuk ke kamarku. Ia kemudian menghampiriku.

=======================================================

bersambung ke Ariel, The Holy Knight bagian 3...

Tidak ada komentar: