Sabtu, 02 Mei 2009

Lintang, bulan purnama di atas Dermaga Olivir...

Apakah kamu pernah dengar kata-kata di atas?

...

Apa? Laskar Pelangi?

Ya, tepat. Lintang sang jenius, salah satu dari 10 + 1 anak Laskar Pelangi yang mendapat julukan sebagai "bulan purnama di atas Dermaga Olivir"

Gak heran kalo kamu tau kata-kata itu. Jelas karena Laskar Pelangi The Movie yang diproduksi pada tahun 2008 dan disutradai oleh Riri Riza itu sempat menjadi tontonan utama di bioskop-bioskop Indonesia.

Tapi, bagaimana dengan masa-masa sebelum filmnya diproduksi, apa waktu itu kamu tau maksud dari kata-kata "Lintang, bulan purnama di atas Dermaga Olivir" ?

...

Sekitar pertengahan tahun 2007, dengan perjuanganku mengumpulkan insan-insan berjiwa teater di sekolah SMA ku, SMA Mutiara Bangsa 1, akhirnya terbentuklah Teater Mutiara Bangsa. Waktu itu seorang pelatih teater, Pak Frans, direkrut oleh sekolah untuk melatih teater di sekolah kami.

Setelah beberapa kali pertemuan, kami mengajukan permintaan kepada Pak Frans, dan kepada pihak sekolah, untuk menggelar sebuah pementasan drama perdana Teater Mutiara Bangsa di sekolah kami.
Jauh-jauh hari sebelumnya, kami diberikan naskah oleh Pak Frans. Tampaknya, Beliau menginginkan kami mementaskan drama tersebut.

Sebuah drama yang belum jadi dan masih dalam proses, yang hanya merupakan lembaran penuh dengan tulisan tangan (atau diketik yah? - lupa), namun buah karya dari Pak Frans sendiri. Beliau meminta kami untuk audisi, menentukan peran kami, lalu melatihnya, meski saat itu baru babak pertama dan kedua yang jadi.

"Drama berat...," ujarku dalam hati. Maksudku, ceritanya unik, mengangkat peristiwa yang tidak biasa, dan penggunaan gaya bahasa yang tidak biasa pula. Tapi jujur, aku menyukainya.

Babak pertama drama ini berkisah tentang sebuah sekolah yang tampaknya sudah sekarat, di Belitung, di komplek PN Timah. Sekolah yang hanya memiliki murid sekitar 10 (sepuluh) orang, satu ibu guru yang disebut "Ibunda", dan satu orang kepala sekolah. Nama-nama karakter 10 (sepuluh) murid dalam skenario drama ini cukup unik, sebut saja: Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, Harun.

Aku? Aku kebagian peran Lintang. Meski tadinya banyak yang beranggapan Lintang adalah perempuan (dilihat dari namanya) tapi pada akhirnya peran itu jatuh ke tanganku juga.

Cerita ini diawali dengan adegan pemilihan ketua kelas dan Kucai akhirnya terpilih sebagai ketua kelas, meskipun dia amat sangat tidak menginginkan jabatan itu. Dilanjutkan dengan pengungkapan kecerdasan Lintang yang di atas rata-rata. Aku ingat ada dialog yang terucap dari mulut sang ibu guru, dia menyebut Lintang, sebagai bulan purnama di atas Dermaga Olivir.

Pertemuan selanjutnya, kami diberikan skenario babak kedua. Suatu penggambaran adegan yang kontras dengan adegan-adegan babak pertama. Suatu sekolah tetangga dari sekolah pada babak pertama yang merupakan sekolah normal (atau malah high-class) dengan murid-murid yang merupakan anak-anak dari para konglomerat PN Timah. Angkuh, sok pintar, dan suka menjelek-jelekkan sekolah dari sepuluh anak di babak pertama. Tiba-tiba ada adegan perlawanan dari Flo, salah seorang dari mereka namun yang membela sekolah tetangga mereka itu. Babak kedua terputus hanya sampai Flo dihadapkan ke kepala sekolahnya.

Kisah aneh ini terputus begitu saja. Lalu aku disuruh melanjutkan.
Ya, karena biasanya memang aku yang menulis skenario. Tapi kali ini aku kebingungan. Cerita aneh ini diluar batas kemampuanku. Agak timpang bila kulanjutkan. Sehingga pada akhirnya kami menyerah dan memutuskan untuk menggandi cerita yang akan kami pentaskan di pementasan perdana kami.

Meski begitu, skenario itu tidak ku buang. Ku simpan baik-baik.
Apalagi tak lama setelah pementasan drama perdana kami (dengan cerita yang berbeda) sang pelatih kami, Pak Frans berhenti mengajar kami. Beliau memiliki pekerjaan yang hari kerjanya sama dengan jadwal hari kami latihan, begitu pula dengan tanggalnya.

...

Beberapa bulan pada tahun berikutnya, aku sedang terlibat pembicaraan hangat dengan teman-temanku tentang film dan buku "Laskar Pelangi". Aku dan beberapa temanku yang terlibat dalam percakapan itu adalah manusia Indonesia yang belum pernah membaca dan menonton film Laskar Pelangi.
Hahaha... Kami hanya mengheboh-hebohkannya saja tanpa "mencicipi" sepotong bagian dari buku maupun filmnya. Tanpa sadar pembicaraan kami menyinggung-nyinggung "PN Timah".

Saat itu. Ya, saat itu. Aku amat terkejut. Sepertinya kata itu amat tidak asing di telingaku.
TENTU SAJA!!!
PN Timah adalah setting tempat dasar dari skenario yang pernah Pak Frans berikan dulu.
Dan itu berarti, skenario yang kami terima dulu adalah skenario yang disadur dari novel Adnrea Hirata "LASKAR PELANGI" (2005), jauh-jauh hari sebelum filmnya dibuat oleh Riri Riza.

Dan kami, alumni Teater Mutiara Bangsa, pernah mencicipi peran sebagai 11 (sebelas) orang Laskar Pelangi (termasuk Flo). Sesuatu yang dulu mungkin kami anggap remeh, sesuatu yang dulu kami anggap aneh, kini menjadi sesuatu yang booming di Indonesia. Kami merasakan kebanggaan tersendiri dalam hati kami akan hal ini.

Itulah manusia, terkadang kita tidak menyadari betapa berharganya sesuatu itu hingga orang lain yang menyadarinya terlebih dahulu...

Terima kasih untukmu, Pak Frans, terima kasih untuk melatih kami pada rentang waktu yang singkat, terima kasih untuk memberikan sesuatu yang berharga kepada kami meski saat itu kami belum menyadarinya.
-------------------------------------
Tepat pada tanggal 21 Juli 2008, TEATER MUTIARA BANGSA ditiadakan.
Dari 30 orang anggota berkurang hingga 17 orang dan akhirnya pada pergantian tahun ajaran, semua pergi meninggalkan TEATER MUTIARA BANGSA, tinggal aku dan 2-3 orang lainnya.
Sekolah akhirnya memutuskan bahwa TEATER MUTIARA BANGSA dibubarkan.
Dan aku, sang ketua teater, yang menjadi kapten pada kapal TEATER MUTIARA BANGSA ini tenggelam bersama kapalnya.
"Aku telah mengakhiri tugasku untuk menjadi kapten yang baik..."

Tidak ada komentar: