Kamis, 26 Desember 2013

Cinta Pro-Aktif


Baru-baru ini saya melihat sebuah gambar. Sebenarnya bukan gambar sih, lebih tepatnya empat buah potongan percakapan sederhana. Isinya kira-kira seperti ini:

Karena suatu hari, orang yang ngomong, "Udah makan belum?" bakal kalah sama yang ngomong, "Makan bareng yuk!"
Karena suatu hari, orang yang selalu bilang, "Aku kangen kamu.." bakal kalah sama yang bilang, "Kamu di mana? Aku samperin ya, kita jalan bareng.."
Karena suatu hari, yang selalu bilang, "Kamu bisa pulang sendiri kan? Apa perlu aku jemput? Di mana? Jam berapa?" bakal kalah sama yang bilang, "Aku udah di depan nih, nungguin kamu. Pulang bareng yuk!"
Karena akhirnya, semua tipe dan kriteria yang kamu punya, akan dikalahkan sama dia, yang punya waktu, dan menyamankan hidupmu.."


Tulisan-tulisan ini sebenarnya mau menunjukkan sebuah cinta yang proaktif. Ia tidak diam, hanya bicara dan tidak melakukan apa-apa. Cinta proaktif selalu mengalir dalam gerak, dalam aksi yang nyata. Cinta seperti ini menjadi begitu mempesona.

Bukankah cinta seperti ini adalah cinta yang sama yang ditunjukkan oleh Tuhan kita?
Ketika jurang dosa yang memisahkan Diri-Nya dan manusia sudah terbuka begitu lebarnya, Ia tidak diam. Ia tidak diam saja di tempat-Nya yang nyaman di langit, melemparkan berbagai jenis hukuman ke bumi, sebagai upah dari pelanggaran yang manusia lakukan. Ia tidak menunggu manusia berjuang menghampiri-Nya. Lihatlah, Allah yang Maha Besar, Maha Agung, Maha Mulia itu melepaskan segala ketidakterbatasan-Nya itu untuk hadir dalam ruang, waktu, bahkan dalam tubuh yang terbatas. Bukankah itu bukti bahwa cinta-Nya adalah cinta yang proaktif?

Dan itulah cinta yang sesungguhnya,
Cinta yang menunggu, namun tidak menunda
Cinta yang menggebu, namun tidak memaksa
Cinta yang terus menghasilkan geliat gerak dalam gairah yang menghidupkan
Cinta yang mencari, menggapai sudut-sudut gelap kelam

Ia tidak buta, hanya tidak mau melihat
Ia tidak nekat, hanya berani mengambil resiko
Ia membiarkan dirinya terseret dalam bahaya,
Bukan bunuh diri, tapi mengorbankan diri
Bukan bodoh, tapi di luar pemikiran manusia

...

Dan lihatlah, Tuhan Yesus Sang Cinta Sejati itu terlahir dalam wujud seorang bayi yang lemah, tak berdaya, dan tak dapat berbuat apa-apa. Mengapa? Karena Ia memberi ruang bagi kita, mempersilahkan kita untuk mempraktekkan sebuah cinta yang sama.
Cinta yang proaktif, yang membuat kita tidak menunggu dalam diam, tetapi ikut dalam sebuah kerja sama yang dinamis, antara Allah Bapa dan kita, terjalin menjadi satu dalam cinta. Hingga pada akhirnya keselamatan kekal itu kita peroleh, yaitu berada dalam rumah-Nya, menikmati waktu bersama dengan-Nya, dicintai oleh-Nya dan mencintai-Nya secara aktif.

Selamat Natal, selamat merayakan kelahiran Yesus Kristus, Sang Cinta Kasih Kekal yang Proaktif. Amin.



=======================================================
-Christnadi, malam Natal 2013

1 komentar:

Irene Chrysantheme mengatakan...

How beautiful....

Renungan yang sangat mengetuk pintu kesadaran. Thanks.
God bless you