Selasa, 01 April 2014

All Roads Lead to Rome (Pembahasan Surat Paulus kepada Jemaat di Roma)


Dikutip dari Majalah Shining Star Komisi Remaja GKI Gunung Sahari edisi Maret 2014
 

Pepatah mengatakan "banyak jalan menuju Roma," dan memang banyak jalan telah dibuka untuk memudahkan orang datang ke kota Roma, tetapi tetap saja jalan-jalan itu tidak dapat membawa sahabatku ke kota besar itu.

Perkenalkan, aku Gayus, sahabat Paulus. Aku sedang memikirkan sahabatku ini.
Apakah kau mengenalnya? Dia seorang penginjil yang hebat! Meski ia bukan salah satu dari dua belas rasul, namun perjumpaannya dengan Yesus di Damsyik telah mengubahkan dia dan membuatnya sama gigihnya dengan keduabelas rasul untuk memberitakan Injil.

Kini Paulus sedang menetap di rumahku. Diam-diam kuamati apa yang sedang ia lakukan di kamar yang kuberikan padanya untuk ia tempati. Ia masih termenung, seperti kemarin-kemarin. Terutama hari ini, sore yang teduh di rumahku yang sunyi ini membuatnya kembali termenung sambil memegang kalam di tangannya. Ia masih melanjutkan menulis surat itu, sambil memandang jauh ke luar jendela.

Surat itu, surat untuk jemaat di Roma. Ia tuliskan sejak ia tinggal di rumahku, dalam rentang waktu yang cukup lama, tidak seperti surat-surat lainnya. Padahal, jemaat di Roma bukanlah jemaat yang ia dirikan. Ia hanya mendengar kabar tentang jemaat di Roma dari sahabat-sahabatnya yang pernah ke sana. Konon katanya, jemaat di Roma sedang berada dalam tekanan, dalam ancaman bahaya. Meski demikian, jemaat Roma adalah jemaat yang cukup besar jika dibandingkan dengan jemaat di kota lain.

Kemarin malam, ketika Paulus sedang makan malam bersama keluargaku, ia menceritakan bagaimana surat untuk jemaat di Roma itu hampir rampung. Tinggal sedikit lagi ia menyelesaikan surat itu dan mengirimnya ke Roma. Ia juga bercerita bagaimana ia menuliskan beberapa pokok-pokok pemikiran teologisnya. Dalam surat itu ia menuliskan bagaimana Injil dipahami sebagai wujud pewartaan kuasa Allah yang menyelamatkan manusia dari dosa, lalu tentang kutuk dan pembenaran Allah, tentang umat Kristen Yahudi dan Non Yahudi yang seharusnya tidak dibedakan, serta tentang hidup dalam pengharapan.

Dengan semangat ia menjelaskan secara rinci kepadaku apa saja yang ia tuliskan dalam surat yang akan ia kirimkan ke Roma. Katanya, ia ingin jemaat di Roma yang besar itu memperoleh kekuatan baru dan semakin kuat sebagai gereja yang merupakan satu kesatuan tubuh Kristus. Melihat cara Paulus menjelaskan pemikiran-pemikiran teologisnya dalam surat itu, aku rasa Paulus juga ingin memperkenalkan dirinya, dengan harapan ia dapat diundang untuk mengajar di jemaat itu.

Ya, Paulus ingin sekali mengunjungi jemaat Roma. Tertulis dalam suratnya, "Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu. Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku."
Memang, ia sudah tidak lagi mempunyai pekerjaan di kota ini, jadi tidak ada alasan juga untuk kami menghalang-halangi Paulus untuk tidak pergi. Namun, Paulus terus mendapat kesulitan untuk segera pergi ke sana. Banyak hal yang harus ia kerjakan, termasuk menangani masalah-masalah yang ada di jemaat-jemaat yang ia dirikan.

Lihat, setelah dari tadi ia termenung menatap jauh ke luar jendela, kini ia menundukkan kepala, berdoa kepada Allah. Sahabatku ini terus menggumuli visinya untuk memberitakan Injil di Roma, di tengah-tengah jemaat Roma yang besar itu.

Aku, Gayus yakin bahwa suatu saat Tuhan sendiri yang akan mengantarkan sahabatku ini ke Roma, dengan satu jalan yang telah Tuhan siapkan, yang lebih mampu membawanya ke Roma dibandingkan banyak jalan menuju Roma yang manusia buat.

Berjuanglah sahabatku Paulus, Tuhan pasti menyertaimu ke mana pun engkau melangkah.


 
** Cerita ini merupakan narasi imajinatif yang hendak menceritakan tentang Paulus dan surat yang ia tulis untuk jemaat di Roma, dan benar, Tuhan sendiri yang membuka jalan bagi Paulus untuk sampai di Roma. Sekitar tahun 56 Masehi, Paulus di tangkap di Yerusalem karena membawa murid-muridnya yang adalah kaum Yunani, ia lalu dihadapkan kepada Feliks dan tahun 58M ia naik banding sehingga ia dibawa menghadap Festus. Ia juga bertemu Raja Agripa II dan terus mengajukan naik banding hingga ke tingkat Kaisar, oleh sebab itu ia harus di bawa ke Roma. Dalam keadaan terbelenggu, ia menjalani perjalanan laut yang sulit dan mengancam nyawa. Akhirnya, tahun 59 Masehi ia tiba di Roma, berjumpa dengan jemaat Roma, dan sambil menjalani proses pengadilan, ia terus mengabarkan Injil di Roma. Tahun 64 Masehi, Paulus mati sebagai martir di Roma, di bawah kekejaman Kaisar Nero.



==========================================================
-Christnadi, 2013 untuk Rubrik Star Bible majalah Shining Star Komisi Remaja GKI Gunung Sahari, Maret 2014

Tidak ada komentar: